10.14.2008

Sejarah Singasari dan Majapahit Masih Diliputi Mitos

Sejarah Singasari, Majapahit, Blambangan, dan sejarah kedaerahan lainnya di Indonesia masih didominasi oleh mitos dan bukan sejarah dalam artian sesungguhnya. “Munculnya mitos dalam sejarah itu terlihat dari adanya kejadian yang selalu dikaitkan dengan kepercayaan,” kata Sri Margana dari The Institute for the History of European Expansion (IGEER) University of Leiden, The Netherland, di Surabaya, Jumat. Ia mengemukakan hal itu saat menjadi pembicara dalam Studium Generale Sejarah Jawa Timur Abad 17-19 di Fakultas Sastra (FS) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. “Di masyarakat tampaknya terdapat kesalahpahaman mengenal sejarah daerah masing-masing dan ironisnya hal itu sudah berlangsung cukup lama, bahkan turun temurun,” katanya. Ia mencontohkan cerita mistis Macan Putih di Banyuwangi. “Suatu ketika Bupati Samsul terkena persoalan/musibah yang cukup besar dan hal itu dikaitkan dengan mitos macan putih, sehingga bupati meminta sekretarisnya untuk menghancurkan macan putih yang berada di depan gerbang masuk Banyuwangi,” katanya. Selain itu, dirinya juga pernah mendatangi daerah Tawangalun. “Saya sempat tanya sejarah Tawangalun kepada juru kunci dan saya sangat heran atas penjelasan juru kunci yang salah dan ketika saya jelaskan yang sebenarnya justru dia manggut-manggut,” katanya. Menurut kandidat doktor dari Leiden itu, kebanyakan politisi atau pejabat daerah memanfaatkan mitos itu untuk kepentingan pribadi. “Misalnya, Kerajaan Blambangan di Abad 18. Saat itu, awal ajaran Islam masuk ke Blambangan dan pada saat yang bersamaan muncul pagebluk (musibah penyakit) yang tak kunjung sembuh,” katanya. Hal itu, katanya, disikapi masyarakat Blambangan yang mayoritas Hindu dengan mengkaitkan dengan mitos. “Ketua adat setempat mengaitkan dengan munculnya kekuatan asing yakni ajaran Islam, sehingga masyarakat setempat mengusir para penyebar ajaran Islam,” katanya. Padahal, kejadian itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan agama. “Para pendeta dan pemuka agama Blambangan tampaknya takut dengan kedatangan pemuka agama Islam dan ditakutkan akan membawa perubahan di masyarakat, sehingga dikaitkan dengan mitos agar bisa diusir,” katanya. Namun, ajaran Islam akhirnya bisa masuk ke Blambangan berkat politik Devide et Impera (pecah belah) yang dilakukan VOC (Belanda). “Ketika itu, perlawanan masyarakat Blambangan sangat kuat terhadap VOC, dan Belanda segera mencari akar permasalahannya dan sumber kekuatan masyarakat Blambangan. Akhirnya diketahui bahwa hal itu berasal dari bantuan masyarakat Bali, sehingga Belanda akhirnya meng-Islamkan para pendeta dan pemuka adat untuk memutus hubungan dengan Bali,” katanya. Secara terpisah, ketua panitia Laode menambahkan kegiatan itu berangkat dari sebuah realitas akan minimnya pakar/sejarawan yang khusus menulis dan meneliti Jawa Timur, padahal Jatim memainkan peranan historis yang sangat penting dalam proses perjalanan negara ini. “Kita mengenal Singasari, Majapahit, Raja Blambangan, dan masih banyak lainnya. Saya pikir, hal itu merupakan sebuah ajang yang sangat baik, sekaligus mempelopori kajian akan Jawa Timur yang belum banyak diungkap,” katanya. Sumber: Kompas, Minggu 27 November 2005

Label:

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda